Penderitaan bukanlah ujian, bukan pula kutukan. Juga bukan pula takdir atau nasib yang telah di gariskan oleh sesosok biawak raksasa yang menguasai dunia ini, yang tidak bisa lagi di ubah-ubah. Nasib manusia ada di tangannya sendiri, bukan di tangan mahluk lain. Tapi manusia itu naif dan menyabotase ketidaktahuan/ kebodohannya sendiri. Nasib tidaklah kaku, melainkan fleksibel. Takdir bukanlah suatu kepastian yang mutlak. Melainkan itu semua hanyalah gejolak hukum karma, yang bisa di antisipasi maupun di penetralisasi, di hambat maupun di percepat, di rawat maupun di babat. Menyalahkan atau menyembah mahluk yang ada di luar diri sendiri, hanya akan memperpanjang hukum sebab akibat ini. Hutang karma kita adalah karena diri kita sendiri, bukan karena orang lain atau mahluk lain. Berhentilah menyalahkan ke luar diri, karena hutang karma kita sendiri yang harus membayar ya harus diri kita sendiri. Begitu juga dengan upah dari karma baik kita, yang menikmati juga kan diri kita sendiri, masa kita cuma mau menerima upah karma yang baik saja, hutang dari karma buruk juga harus kita tanggung jawabi dong.
Kita sebenarnya di beri kebebasan oleh kehidupan untuk untuk berbuat baik atau buruk, jadi kalau mau buat hutang karma yang baru silahkan asalkan mau tanggung resiko. Kalau mau menerima upah karma yang baru, ya silakan juga tanam banyak-banyak karma baik yang baru. Tapi kelak untuk menyelesaikan perkara karma, masalahnya tidak segampang membuatnya. Karena memori ingatan kita sangat terbatas, sedangkan hidup bukan cuma sekali ini saja atau dua kali setelah yang kali ini. Melainkan kehidupan kita sudah tidak terhitung kali..... Jadi, masalah karma ini sudah seperti benang yang sudah serabutan tak karu-karuan. Cuman hanya karena kita tidak bisa mengingat banyak kehidupan kita yang telah kita lalui di masa-masa sebelumnya, ya tai kambing bulat-bulat, apa boleh buat nggak bisa di bikin obat..... Alhasil kita selalu terjerat oleh banyak pandangan salah, sehingga kita menyalahkan Tuhan, menyalahkan kehidupan, menyalahkan orang tua, menyalahkan orang lain dll. Padahal kita sendirilah biang kerok dari chaos kehidupan kita ini. Ingin terlahir bahagia, ingin terlahir di Surga. Tapi, tidak paham kalau ada bahagia harus ada menderita sebagai pembanding, tidak paham kalau ada Surga harus ada Neraka sebagai penyeimbang. Karena kalau cuma ada bahagia tanpa derita itu akan timpang, tidak proporsional seperti manusia yang cuma punya kaki satu, cuma punya tangan satu, itu kan cacat dan tidak indah. Atau seperti di dunia ini cuma ada laki-laki dengan penis, tapi tidak ada wanita dengan vagina atau sebaliknya. Jadi, jangan negatif dulu ya ini cuma sebagai analogi perbandingannya saja begitu. Bayangin di dunia ini cuma ada maskulinitas tanpa feminimitas atau sebaliknya, maka kehidupan tidak akan berkembang. Jadi, kalau tidak ingin menerima imbas dari hukum dualitas. Ya juga jangan meremas-remas hukum dualitas. Dampak dari Hukum karma tidak mungkin lagi di akhiri, satu-satunya jalan adalah dengan cara menghancurkan hukum karma tersebut.






0 komentar:
Posting Komentar