This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 06 Oktober 2015

Sakit, Tua dan Mati adalah Berkah

Sakit, Tua dan Mati adalah Berkah

Anda pasti pernah sakit, minimal ketika menahan pipis, menahan hajat, lapar, diare, flu dll. Terus rasa sakit berkahnya dimana oon ?  OK, dengan rasa sakit berarti kita tidak merasa nyaman. Akan tetapi dengan rasa sakit kita sebenarnya diperingatkan oleh tubuh kita supaya kita
merawat, memperhatikan dan menyayangi mereka. Bayangkan kalau tubuh kita terbakar, di gigit tikus, di grogoti belatung, bakteri dan jamur tanpa ada rasa sakit maka kita tidak pernah tahu di mana letak ancaman bahaya tersebut. Bisa-bisa banyak bagian dari tubuh kita yang hancur, tapi kita tidak peduli. Badan timpang, paru-paru hilang, ya nggak bisa bernafas. Kayak di jaman dulu ada banyak orang yang menderita penyakit kusta, jari-jarinya hilang di makan tikus, hidungnya di makan belatung tetapi dia tidak sadar. Jadi, bersyukurlah kalau anda masih bisa merasakan sakit karena itu normal. Kalau tidak tahan sakit kembangkan Meditasi. Sesakit apapun rasa sakitnya, amati saja terus sampai puluhan jam. Belum sampai tiga jam, biasanya rasa sakitnya hilang. Yang paling unik rasa yang tadinya sakit bisa berubah menjadi nikmat, kalau anda sabar dan memiliki keikhlasan yang murni. Ini pengalaman saya pribadi, saya katakan anda tidak akan pernah bisa mempertahankan satu objek mental tertentu selama-lamanya. Ada banyak objek mental, baik itu fikiran, baik itu perasaan, ingatan, emosi, persepsi dll. Jenis fikiran itu banyak, jenis Perasaan juga demikian, jenis ingatan ini tidak terhingga karena anda sebenarnya bisa mengingat sampai seribu kehidupan anda di masa lampau tapi sayangnya apa yang anda makan dua minggu yang lalu juga tidak bisa anda ingat ya apa boleh buat/ kalau bisa di ingat juga bikin dada nyesek mungkin karena itu kita secara memori sadar berasumsi dengan naif bahwa kehidupan ini cuma sekali ini saja, sekali ini saja sudah enek ya kan. Atau gimana mau lanjut terlahir lagi, kalau lanjut ke Surga sih pasti mau ya kan. Tapi sayangnya aspirasi kita untuk terlahir kembali di Surga, Surganya nggak abadi tetapi kelahiran kembalinya yang kekal.

Mau tidak mau setiap detik umur kita akan terus bertambah, tanpa peduli kebijaksanaan anda berkembang atau tidak. Tujuan anda terlahir sebagai manusia telah tercapai atau tidak, anda akan terus menua. Waktu anda semakin hari semakin tipis, sedangkan kegagahan anda, kekuatan mata, telinga, lidah, hidung anda semakin lemah. Terlepas dari sekaya apa pun anda, sebanyak apapun anda melakukan oplas, sebaik apapun asupan nutrisi anda, sebanyak apapun karma baik yang anda buat, pasti anda akan tetap menua.

Kematian sebenarnya adalah berkah bukan suatu momok yang menakutkan. Kita sebenarnya yang pobia terhadap kematian, kita itu bukanlah takut mati, tapi khawatir dengan ketidakpastian, takut dengan penderitaan di Neraka, trauma jadi binatang, khawatir jadi hantu dll. Bukankah seharusnya kalau kita sudah tahu bahwa setelah kita mati, kita pasti akan terlahir di Surga kita tentunya tidak akan begitu alergi dengan kematian. Dan saya yakin, malah kita semua pasti akan berlomba-lomba untuk mati. Tapi karena tidak ada pengetahuan, kita akhirnya tidak begitu yakin dan ragu dengan suara-suara sumbang yang memploklamirkan tentang adanya kepastian akan Surga kalau kita percaya kepada mahluk tertentu. Sesungguhnya secara alam bawah sadar, naluri kita selalu berbicara tentang kebenaran dan condong kepada kebenaran, tapi karena adanya dogma yang di sertai dengan pandangan salah maka kita menjadi ragu dan bimbang. Maka walaupun kita beneran percaya terhadap doktrin ajaran kepercayaan tertentu, tapi kita sebenarnya kita tidaklah begitu terlalu yakin seratus persen buktinya kita enggan untuk mati.

Ketakutan akan kematian itu ibarat ketakutan bocah SD yang sedang menunggu antrian/ giliran untuk di suntik, bagi murid yang takut dengan jarum suntik pastinya udah greget panas dingin membayangkan rasa sakit ketika jarum kecil yang akan menusuk kulit dagingnya sedangkan murid yang sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan bahwa suntikan itu adalah baik demi kesehatan dirinya sendiri maka dia akan dengan senang hati untuk di suntik.

Walaupun kita enggan untuk mati, kematian akan tetap menghampiri.
Di satu sisi sekalipun kita terus menerus berhasil mempertahankan hidup kita dari rintangan kehidupan ini, terus menghirup udara senafas demi senafas. Akhirnya kita menua juga, sedangkan penuaan adalah penderitaan. Penuaan membuat kita menderita seolah memaksa dan mendesak kita untuk mati. Bayangkan umur anda nantinya sudah 175 tahun, mata udah rabun, jalan udah gemetar, sakit pinggang, prostat, udah pikun, tidak ada lagi teman sebaya yang sehati dengan anda, anak-anak anda mulai merasa terbebani untuk melakukan bakti sehingga anda di titipkan ke panti jompo, anda tidak merasa berguna lagi untuk hidup, di sisi lain kematian tak kunjung datang menjemput anda sehingga anda menjadi tungau/ tua-tua galau. Inilah jadinya ketika anda mau mati, mati nggak mau mendekati anda. Jadi,  panjang umur bukan berkah, melainkan hukuman. Pendek umur juga bukan berarti berkah loh ya, kalau anda mati karena di gebukin atau di bakar massa oleh karena anda adalah maling muda yang belum berpengalaman anda akan juga pasti masuk Neraka. Hidup bukan soal umur panjang atau pendek, bukan juga soal lebih banyak bahagia atau menderita, tapi soal kapasitas dan kualitas pembelajaran yang telah anda dapatkan dari kehidupan ini. Kehidupan kita ini akan terus di rangkai sampai banyak kelahiran, tenang saja kehidupan anda tidak akan lenyap begitu saja ketika anda mati.  ( Kehidupan kadang terangkai indah; kadang jelek. Kadang anda jadi ustad, kadang jadi bangat. Kadang gila, kadang waras. Kadang terlahir kaya, kadang miskin. Kadang jadi manusia, jarang jadi Dewa. Sering jadi binatang atau hantu ).  Demikianlah sampai kita bisa menghentikan proses kelahiran dan kematian.

Semoga bermanfaat.
Semoga semua makhluk bahagia.

Jumat, 28 Agustus 2015

Revolusi Pemahaman Akan Tuhan

Bukti apa yang kamu miliki kalau Tuhan yang kamu yakini itu maha sempurna, nyatanya ada manusia yang jadi banci, ada orang gila, ada orang idiot, ada manusia yang penyakitan, ada yang bodoh tapi merasa benar bahkan merasa paling benar walau belum pernah belajar melalui pengalaman langsung.

Bukti apa yang kamu miliki, kalau Tuhan itu maha Tunggal. Padahal nyatanya ada banyak Dewa dan ada banyak Brahma/ Dewata Dewa yang di percaya sebagai Tuhan yang maha Tunggal. Orang di suatu negara menuhankan Tuhan yang maha Tunggal di negaranya, sedangkan orang di Negara lain juga menuhankan Brahma yang maha Tunggal, di negara lain lagi ada juga orang yang menuhankan Allah yang maha Tunggal, di Negara lain lagi menuhankan Dewata yang maha Tunggal. Jadi, sebenarnya ada banyak Tuhan yang maha Tunggal. Kalau ada banyak, berarti itu namanya bukan Tunggal. Bukan juga Tuhannya satu, tapi namanya banyak seperti pembenaran demi toleransi beragama. Tapi nyatanya memang ada banyak manusia yang memiliki banyak persepsi tentang anggapan yang serupa tapi beda visi misinya, beda ide dasarnya dll. Nyatanya di kehidupan ini, bahkan ada manusia yang menuhankan Asura/ Jin/ Siluman yang kodratnya lebih rendah daripada manusia, ada lagi yang lebih parah menuhankan Binatang, ada lagi yang lebih bodoh menuhankan pohon dan batu. Jadi, teori eksistensi Tuhan itu sangat tergantung kecerdasan developernya atau orang-orang yang membangun dan mengembangkan potensi agama tertentu. Teorinya semakin sulit di nalar, semakin mudah di terima. Karena yang di luar nalar itu, luar biasa. Apakah kamu masih lebih suka Tuhan yang simple, atau Tuhan yang telah kamu selidiki dengan segenap usaha melalui pengalaman langsung.