Senin, 03 Desember 2018

Kelahiran Kembali Sebagai Reuni dari Kehidupan Masa Lalu Part 2

OK, lanjut....
Tapi lain halnya setelah pangeran Sidharta tercerahkan, bahkan tujuh bidadari kayangan/ puteri dewa Mara yang kecantikannya seribu kali lebih cantik dari wanita tercantik di dunia tidak mampu menggoyahkan batin beliau. Karena batinnya memang sudah murni, hingga para Dewa paling suci di Surga pun tidak bisa melampaui kesucian beliau. Jangan bandingkan kesucian beliau dengan orang suci jaman now. Sekarang orang suci yang paling terkenal di dunia, ada di Amerika. Orang suci, tapi  berlangganan pelacur yang tiap bulannya gonta ganti dan sekali boking tidak cukup satu atau dua pelacir, minimal tiga. Apakah semakin banyak melakukan hubungan kenikmatan dengan orang yang berbeda, akan membuat semakin spiritual seseorang. Bisa jadi sih, karena konon ada orang suci yang memiliki puluhan istri dan banyak pengikutnya yang juga menjadi orang suci yang luar biasa. Luar biasa dalam tanda kutip.......
Saya tidak sedang membahas Agama/ Tentang Kekacauan, tapi membahas Dharma/ Tentang Kebenaran. Yang saya bahas adalah tentang Agama dan Dharma, yang kosa-katanya sama-sama berasal dari bahasa Sanskrit/ Pali kok. Bukan Agama dalam definisi dan penafsiran kaleng-kaleng. Maunya sih jangan lagi ada kata agama di KTP, tapi kata Agama di ganti menjadi " Tidak Kacau Balau ( di tulis dalam bahasa Arab ) " : bla-bla-bla ( Isi dengan Keyakinan anda ).

Seandainya anda sudah bisa mengingat kehidupan lampau anda di kehidupan sebelumnya. Maka saya yakin semua kesenangan dan kebahagiaan yang anda pernah alami di kehidupan masa lampau itu justru menjadi dilema dan kesedihan yang menyesakkan dada bila diingat dari perspektif kehidupan yang sekarang/ saat ini soalnya susah berlalu. Jadi, untuk apa bahagia kalau kebahagiaan kita juga akan berlalu dan menjadi kenangan yang menyesakkan dada bila diingat-ingat nantinya di kehidupan yang akan datang. Gara-gara itu jugalah kebanyakan dari kita akhirnya terlahir kembali ke dunia ini, untuk reuni asing oleh karena tidak saling mengenal antara satu dengan yang lain.  Kita sama-sama tidak bisa mengingat satu dengan yang lain. Padahal bisa jadi di kehidupan lampau kita adalah sepasang suami istri, sahabat karib, adik kakak, guru murid, bahkan ada yang bisa saja hubungan anak dan orang tua.

Banyak banget orang yang dalam kehidupan ini jarang bersyukur, tidak pernah berterima kasih, tidak pernah merasa cukup, tidak pernah puas.
Terus pas jumpa yang nggak bahagianya di dalam kehidupan ini malah nyalahin Tuhanlah, nyalahin orang tua, nyalahin orang lain, nyalahin lingkungan, nyalahin motivator dll. Itu sebabnya saya nggak mau lagi nyalahin orang-orang yang tidak sejiwa dengan saya, menganggap saya munaf, menganggap saya aneh, menganggap saya sombong, menganggap saya sok tahu, menganggap saya naif, menganggap saya tidak punya tujuan hidup, menganggap saya sinis dan tidak punya tujuan hidup. Sebenarnya saya juga tidak butuh supaya orang mengerti saya, saya juga tidak butuh orang lain punya pandangan seperti pandangan saya dan saya juga tidak butuh mereka mendukung apa yang saya ketahui benar. Saya cuma prihatin, mau sampai kapan mereka menyalahkan mahluk lain dimana mahluk yang di salahkan juga memiliki pandangan salah. Sebenarnya permasalahan hidup ini sangat simpel, hanya masalah ingatan saja. Kalau anda bisa mengingat semua kenangan anda yang ada di banyak kehidupan masa lalu anda, maka minimal anda tidak perlu lagi bertanya kenapa saya kok terlahir begini, sedangkan orang lain kok begitu. Orang lain kok ibunya cantik, ayahnya bijak dan kaya. Sedangkan saya ibu saya kok jelek, bodoh, ayah saya kok kejam dan pemalas. Ini adalah pertanyaan yang menyita banyak waktu dan energi, apalagi kalau anda tidak memiliki pandangan hidup yang benar, anti dengan hukum karma dan berfikiran sempit karena meyakini ajaran yang instan / malas mempelajari apa yang tidak anda pahami. Anda bisa saja ketika frustrasi, ambil jalan pintas dengan cara bunuh diri hanya gara-gara kebijaksanaan yang kurang sedikit saja.

0 komentar:

Posting Komentar